Festival Seni dan Budaya Manggarai tahun 2024 ini mengambil bambu sebagai bahan utama perhelatan. Dengan mengambil tema “Rembong Neho Betong” (rindang seumpama bambu), festival ini hadir untuk mengingat sekaligus merayakan bambu–sebagai unsur penting dalam hidup masyarakat Manggarai–yang pada hari-hari terakhir ini kerap dilupakan/diabaikan sebagai akibat dari laju perkembangan teknologi informasi yang kerap membuat kita melupakan akar kebudayaan kita. Melalui berbagai pementasan seni pertunjukan dan hal-hal lain yang telah disiapkan, kita dipanggil pulang untuk melakukan refleksi: bagaimana wajah Manggarai di waktu-waktu yang akan datang jika kita melupakan akar (wake) dan mengabaikan buku/ruas (wungkut)? Kemanggaraian bisa saja akan tergerus dan kita menjadi kehilangan identitas.

Melalui “Rembong Neho Betong”, festival ini adalah ajakan agar semua yang terlibat bekerja sama menumbuhsuburkan identitas Manggarai, agar rindang seumpama bambu, dan terutama bermanfaat bagi banyak orang. Bambu adalah tanaman penjaga mata air. Dan mata air adalah kebutuhan kita sepanjang hayat. Manggarai, bagi kita, adalah wae teku tedeng (mata air abadi); kita hidup darinya dan kita wajib membuatnya tetap hidup.**