Kupang, KN – Momentum Pemilihan Kepala Daerah sudah di deopan mata. Saat ini sejumlah nama sudah mulai mendaftar ke partai politik. Namun ada catatan tegas dari kalangan akademisi. Adalah Prof Dr I Gusti Bagus Arjana, MS., guru besar Geografi dan Wis Peduli (pariwisata, pendidikan, kependudukan dan lingkungan) Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, kepada wartawan menegaskan bahwa secara teoritis, NTT memiliki banyak lahan yang cocok untuk pertanian.

Sayangnya, pola pertanian warga kita masih tradisional, dan hasilnya sekadar cukup untuk konsumsi pribadi, sangat sedikit yang berpikir untuk industrialisasi pertanian. NTT juga memiliki sumber daya air yang melimpah yang tinggal diangkat ke permukaan. Presiden RI Joko Widodo pun sudah menghadirkan bendungan berkapasitas besar sehingga kedepan, ini bisa menjadi kekuatan besar dan menjadi andalan NTT.

“NTT butuh seorang pemimpin yang punya visi baik tentang pola pertanian lahan kering. Nantinya harus menemukan cara yang tepat untuk memanfaatkan sarana irigasi yang sudah dibangun. Dia harus mampu memanage sumber daya air yang dimiliki. Manajemennya harus bagus karena potensinya sudah ada,”demikian Prof Gusti.

Akademisi yang sudah setengah abad lebih mengabdi dan masuk keluar kampung-kampung di NTT ini di awal diskusi dengan media ini menegaskan bahwa dia menemukan banyak fakta bahwa sebenarnya provinsi ini mampu jika diarsiteki oleh tangan yang tepat. Dia mencontohkan, pada tahun 2010 ketika menjbat sebagai Pembantu Rektor 1 Undana, dia bertugas di Nagekeo dan saat itu bertemu Bupati Nagekeo, Yohanis Aoh.

“Saat itu saya kunjungan ke Bendungan Sutami yang dibangun tahun 1975 dengan kapasitas bisa mengairi 5.000 hektar lebih lahan pertanian. Saya tanya sudah berapa hektar dikelola dan dijawab sekurang 2.500 hektar. Saya bilang aduh kasian, kenapa sekian tahun masih lahan tidur sekitar 3000-an hektar. Beliau jawab, lahan-lahan itu banyak dikuasai ‘kerah putih’. Ini satu kendala besar, karena tanah itu milik mereka yang tanahnya dibeli, tidak dikelola dan hanya menjadi aset. Inilah hambatannya. Karena itu butuh leadership yang mampu membangun sektor-sektor ini. Airnya dikelola baik, sehingga pertaniannya bagus,”ungkap Prof Gusti.