Dikatakannya, pola pertanian lahan kering di NTT masih harus dibenahi. Karena hasilnya hanya untuk makan dan tidak dikomersilkan. Tentu membutuhkan banyak sentuhan disana. Mulai dari skill yang mencukupi, infrastruktur serta sarana dan prasarana.
”Menjadi masalah, ketika petani kita masih belum tertarik memiliki jiwa bisnis. Kita liat di Kota Kupang, berapa banyak yang membuka usahanya. Pertanian hanya untuk makan. Ini harus didobrak menjadi pola pertanian komersial. Nanti petani-petani dibina, diberikan teknologi-teknologi yang baik. Ini harus dibenahi. Harus diperbarui,”tegasnya.
Masih pada kesempatan yang sama, dosen senior Undana yang diwawancarai tentang figur seperti apa yang tepat memimpin Provinsi NTT lima tahun kedepan ini memberikan sejumlah penegasan. Sebagai akademisi dia memiliki pandangan bahwa seorang pemimpin harus memenuhi rumus ACC. Yakni Aceptable, Capable dan Credible.
“Dia juga sosok yang bisa diterima oleh semua orang, semua pihak, pribadi yang ramah, simpatik, elegan tidak primordial. Capable itu memiliki kapabilitas atau kemampuan yang cukup dari berbagai aspek seperti pendidikan, pengetahuan, pengalaman, kemampuan untuk memahami masyarakat yang dipimpin serta Credible yaini sosok pemimpin yang dapat dipercaya, jujur, berintegritas,”tegas Prof Gusti lagi.
Kepribadian pemimpin itu dapat dipercaya publik, serta memiliki pendidikan yang cukup, jujur, berintegritas tinggi, konsisten. Berlaku adil, tidak diskriminatif dan transparan, tidak memiliki rekam jejak yang buruk serta memahami perkembangan dan dinamika masyarakat secara lokal, nasional maupun global. Di sisi lain, dia juga harus menghormati keberagaman.
Sejumlah fakta dibukanya, yakni tingkat kemiskinan di NTT masih cukup tinggi, yakni > 20%, tingkat penganggurannya 3,54%, lalu pekerja migran asal NTT sering menjadi korban dan TPPU, pertanian berciri subsisten, etos kerja yang rendah, budaya bisnis pun rendah.
Sementara di bidang kesehatan, dia menemukan tingkat kelahiran kasar/Total Fertility Rate (TFR) tinggi, Angka Kematian Ibu (AKI), tinggi, Angka Kematian Bayi (AKB) tinggi, Tingkat Stunting tinggi, 15,2% (63,804 anak), Usia Harapan Hidup (UHH) tergolong rendah. Karena itu mestinya ada kecukupan tenaga kesehatan termasuk dokter umum maupun dokter spesialis sampai di pedesaan serta ketersediaan infrastruktur, fasilitas kesehatan harus sampai ke pedesaan di daerah 3T.







Tinggalkan Balasan