Akademisi yang sudah setengah abad lebih mengabdi dan masuk keluar kampung-kampung di NTT ini di awal diskusi dengan media ini menegaskan bahwa dia menemukan banyak fakta bahwa sebenarnya provinsi ini mampu jika diarsiteki oleh tangan yang tepat. Dia mencontohkan, pada tahun 2010 ketika menjbat sebagai Pembantu Rektor 1 Undana, dia bertugas di Nagekeo dan saat itu bertemu Bupati Nagekeo, Yohanis Aoh.

“Saat itu saya kunjungan ke Bendungan Sutami yang dibangun tahun 1975 dengan kapasitas bisa mengairi 5.000 hektar lebih lahan pertanian. Saya tanya sudah berapa hektar dikelola dan dijawab sekurang 2.500 hektar. Saya bilang aduh kasian, kenapa sekian tahun masih lahan tidur sekitar 3000-an hektar. Beliau jawab, lahan-lahan itu banyak dikuasai ‘kerah putih’. Ini satu kendala besar, karena tanah itu milik mereka yang tanahnya dibeli, tidak dikelola dan hanya menjadi aset. Inilah hambatannya. Karena itu butuh leadership yang mampu membangun sektor-sektor ini. Airnya dikelola baik, sehingga pertaniannya bagus,”ungkap Prof Gusti.