Kupang, KN – Dr. Semuel Haning, SH.,MH dilantik menjadi Ketua BPH (Badan Pengurus Harian) PB (Pengurus Besar) PGRI Universitas Persatuan Guru (UPG) 1945 NTT.

Ia dilantik berdasarkan Surat Keputusan (SK) PB PGRI No.57/Kep/PB/II/2022 tentang pengangkatan BPH BP PGRI pada Universitas PGRI 1945 NTT masa bhakti 2022-2027.

Selain Semuel Haning, pengurus lainnya yang juga turut dilantik diantaranya Simson Lasi, SH., MH sebagai Wakil Ketua BP PGRI UPG 1945 NTT, Zumi Adami, S.Th, M.Pd sebagai Sekretaris BP PGRI UPG 1945 NTT, Megaratu Wasti Selan, S.Si sebagai Bendahara I BP PGRI UPG 1945 NTT, dan Martina Dewi Lengo, S.Pd, sebagai Bendahara II BP PGRI UPG 1945 NTT.

Pelantikan dilaksanakan di Aula El Tari Kupang, Kantor Gubernur NTT, Selasa 2 Agustus 2022 oleh Ketua Umum PB PGRI Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd dan dihadiri oleh Kepala L2Dikti NTT, unsur Forkopimda, dan segenap guru serta dosen UPG 1945 NTT.

Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat mendorong mahasiswa dan dosen UPG 1945 untuk mempelajari ilmu-ilmu baru seperti Energi Baru dan Terbarukan (EBT).

Menurut Gubernur, Nusa Tenggara Timur memiliki potensi yang luar biasa dalam bidang EBT. Baik itu di Pulau Sumba, maupun Flores, Alor dan Timor.

“Kita mendorong UPG 1945 untuk menuju ke ilmu-ilmu masa depan terutama EBT yang sudah disiapkan, agar kita bisa melayani negeri kita ini ke depan,” kata Gubernur Viktor Laiskodat.

Dalam sambutannya, Gubernur mengajak para guru dan dosen untuk mendesain pola transfer knowledge dan karakter, agar setiap manusia memiliki pengetahuan dan karakter yang baik.

“Kepada anak-anak didik semua, nomor 1 kamu harus punya kemauan yang luar biasa. Kalau sudah kuliah itu, mahasiswa. Jangan mahasiswa tapi bodoh macam anak SD. Kalau mahasiswa berarti harus bersaing ketat dengan dosennya,” ungkapnya. 

Mantan Ketua Fraksi NasDem DPR RI ini menambahkan, UPG 1945 tidak boleh hidup seperti di masa lalu. Ia ingin agar seluruh tamatan UPG 1945 bisa berbahasa Inggris dengan baik.

“Kenalkanlah bahasa lokal, berbahasa Indonesia dengan baik, dan berbahasa internasional dengan baik. Saya ingin mendorong agar kita tidak boleh tertarik untuk memegang ijazah. Kita harus menjadi manusia intelektual yang dapat membuat segala sesuatu yang bisa dinikmati oleh kita dan orang lain,” tegasnya.