Menanggapi isu bahwa siswa PKL bekerja tanpa hari libur, Sigit membantah keras tuduhan tersebut.

Ia menjelaskan setiap peserta PKL menjalani masa orientasi kerja selama satu minggu penuh, kemudian memperoleh satu hari libur dan selanjutnya tetap mendapatkan jadwal libur satu kali setiap minggu.

Menurutnya, seluruh data kehadiran siswa tercatat melalui sistem fingerprint sehingga jadwal masuk maupun hari libur dapat diverifikasi kapan saja.

“Informasi bahwa siswa tidak mendapatkan libur itu tidak benar. Kami memiliki data fingerprint yang menunjukkan secara jelas jadwal kehadiran maupun hari libur setiap siswa,” tegasnya.

Sigit juga menjelaskan bahwa Hotel Puri Sari memiliki tim Housekeeping yang terdiri dari karyawan tetap. Dalam proses pembelajaran, sebagian karyawan dialihkan ke divisi lain agar peserta PKL memperoleh kesempatan belajar secara langsung, namun tetap berada di bawah pendampingan supervisor.

“Kami sengaja memberikan ruang kepada siswa untuk belajar secara nyata. Mereka tidak pernah dibiarkan bekerja sendiri. Semua proses dilakukan dengan pendampingan dan pengawasan Supervisor Housekeeping,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa seluruh program PKL disusun berdasarkan penyelarasan kurikulum bersama pihak sekolah yang mencakup penguasaan keterampilan teknis (task skills), manajemen pekerjaan (task management skills), kemampuan menghadapi situasi kerja (contingency management skills), kemampuan beradaptasi di lingkungan kerja (job/role environment skills), hingga kemampuan transfer keterampilan (transfer skills).

Terkait pemberian uang saku, Sigit menjelaskan seluruh peserta PKL tetap memperoleh uang saku. Sementara peserta dengan peringkat terbaik memperoleh insentif tambahan sebagai bentuk penghargaan atas prestasi dan kedisiplinan mereka.

“Kami memberikan insentif kepada 10 peserta terbaik sebagai bentuk apresiasi. Peserta lainnya tetap menerima uang saku. Sistem ini dibuat untuk memotivasi mereka agar memiliki semangat belajar dan tanggung jawab,” katanya.

Mengenai sistem penalty, ia menegaskan mekanisme tersebut bukan bentuk hukuman yang diberikan sembarangan, melainkan bagian dari pembinaan disiplin.