Nama : Maria Antonia Kutu
NIM : 43125070
UAS Komunikasi Massa
Sistem perkembangan telekomunikasi dan media massa saat ini telah mencapai tahap konvergensi total. Dimana batas antara penyedia jaringan, perangkat keras dan penyedia konten telah melebur menjadi satu ekosistem digital yang saling terhubung. Media cetak dan televisi konvensional telah sepenuhnya bertransmisi menjadi media multiplatform (teks. Video, audio dan interaktif) yang diakses lewat satu perangkat genggam. Selain itu, media massa saat ini tidak lagi menyiarkan konten yang sama kesemua orang.
System rekomendasi kecerdasan buatan (AI) Menyusun beranda berita secara personal berdasarkan rekam jejak digital masing-masing pembaca.
Kemajuan dan perkembangan media massa pada tahap ini terealisasi dalam suatu teori yang sering disebut dengan teori agenda setting. Teori angenda setting merupakan teori yang menyatakan bahwa media massa memiliki kekuatan untuk membentuk opini public. Teori ini berasumsi bahwa semakin sering media menyoroti suatu isu, maka semakin penting pula isu tersebut dimata Masyarakat. Bernard Cohen mengatakan bahwa inti dari teori agenda setting dengan Bahasa yang sederhana Adalah “media mungkin tidak berhasil mendikte orang tentang apa yang harus dipikirkan, tetapi media sangat berhasil mendikte pembacanya tentang apa yang harus dipikirkan.” Dalam komunikasi massa, teori agenda setting memiliki tiga tahapan utama yang menjelaskan bagaimana media massa membentuk prioritas isu dimasyarakat yaitu:
· Agenda media
Media massa menyeleksi dan memberikan porsi perhatian (frekuensi/durasi) yang besar pada isu tertentu, sehingga menjadikannya tampak sangat penting.
· Agenda public
Melalui terpaan informasi yang terus-menerus, persepsi Masyarakat terbentuk. Apa yang sering dibaicarakan media akan menjadi hal yang dianggap penting oleh public.
· Agenda kebijakan
Isu yang telah menjadi perhatian public dan media akhirnya ditekan untuk direspons, dipertimbangkan, atau diimplementasikan menjadi sebuah kebijakan oleh para pembuat Keputusan yaitu pemerintah.
Implementasi teori agenda setting dalam dunia akademik secara tidak langsung membentuk cara mahasiswa menentukan prioritas belajar mereka. Hal ini terjadi karena adanya perspektif bahwa apa yang dianggap penting oleh media, dosen, atau institusi akan menjadi focus utama mahasiswa. Dalam konteks mahasiswa, fenomena ini secara langsung membentuk apa yang mereka anggap penting untuk dipelajari.
Jika dahulu proses belajar mengutamakan ketangkasan otak untuk menganalisis, sekarang semuanya digantikan oleh hasil instan yang ditawarkan mesin. Bahkan saat berdiskusi mahasiswa tidak lagi menggunakan buku untuk membaca materi melainkan menggunakan handphone untuk mencari materi dan saat diberikan tugas mahasiswa tidak lagi menulis menggunakan buku dan belpoin tetapi langsung menyalin semua jawaban langsung dari AI.
Dengan adanya perubahan dari banyaknya efek dari perkembangan teknologi, mahasiswa cenderung lebih memilih menggunakan kemudahan yang ditawarkan teknologi dibandingkan menggunakan otak untuk berpikir dan mengonstruksi pikiran dalam melakukan suatu hal khususnya mengerjakan tugas. Selain itu, ketergantungan mahasiswa terhada media sering kali membuat mahasiswa sulit mengambil Keputusan sendiri karena mereka menganggap bahwa konten yang sering ditawarkan media secara terus menerus secara tidak langsung mengartikan bahwa konten tersebut penting untuk ditonton.
Misalnya saat media memberikan konten atau berita tentang melemahnya nilai tukar rupiah dan ditampilkan secara terus menerus, orang akan menganggap berita ini penting. Contoh lain yaitu berita tentang menikahnya Jenifer Copen dan Justin Hubner. Pada dasarnya berita ini tidak terlalu penting untuk dibahas atau diperdebatkan oleh mahasiswa karena berkaitan dengan hubungan pribadi public figur, namun karena algoritma menampilkan secara terus menerus justu membuat orang-orang berasumsi bahwa berita ini cukup penting untuk ditonton. Lebih dari pada itu dengan adanya kemampuan media digital untuk menampilkan konten yang dianggap penting oleh penontonnya dalam hal ini mahasiswa, cenderung membuat mahasiswa lebih sering mengonsumsi konten yang ditawarkan algoritma dibandingkan memprioritaskan kewajiban utama mereka untuk belajar. Selain itu kemampuan algoritma dan media untuk menampilkan konten yang disukai Masyarakat khususnya mahasiswa memberikan dampak buruk terhadap prioritas belajar mereka dan membuat layar ponsel terasa jauh lebih menarik dibandingkan dunia nyata yang sering kali dianggap berjalan lebih lambat.
Kesimpulannya, perkembangan teknologi sejatinya memberikan dua dampak utama bagi mahasiswa, baik dampak positif maupun dampak negative. Dampak positifnya yaitu mahasiswa dapat mengakses berita atau mencari tahu hal yang belum dipahami dengan begitu mudah dan cepat, kepekaan terhadap isu terkini, serta kesiapan karir berbasis tren.
Sebaliknya dampak negative dari perkembangan media massa dan agenda setting terhadap pola belajar mahasiswa yaitu mahasiswa lebih sering menggunakan AI untuk mengerjakan tugas dibandingkan mencari referensi dibuku. Mahasiswa lebih sering mengandalkan kepraktisan AI sehingga membuat mereka menjadi malas untuk mengolah argumentasi sendiri.Selain itu pikiran mahasiswa cenderung terkonstruksi oleh seberapa banyak dan seberapa sering suatu konten ditampilkan pada layar. ***







Tinggalkan Balasan