Menurut Yogi, penggunaan teknologi dual fuel menjadi bagian dari upaya PLN dalam mendukung transisi energi yang lebih bersih dan efisien. Seluruh unit mesin PLTMG Sumbawa 2 juga telah memperoleh Sertifikat Laik Operasi (SLO) serta berhasil menyelesaikan seluruh tahapan pengujian, termasuk performance test, pada April 2026.

Sementara itu, SUTT 150 kV Jeranjang-Sekotong memiliki panjang jalur 31,22 kilometer route dengan total 76 tower transmisi. Infrastruktur ini berhasil energize pada 23 Oktober 2025 dan memperoleh Sertifikat Laik Operasi pada November 2025.

Yogi menambahkan, kehadiran PLTMG Sumbawa 2 memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan keandalan Sistem Tambora. Sebelum pembangkit beroperasi, daya mampu sistem tercatat sebesar 168 MW dengan beban puncak sekitar 157 MW. Setelah beroperasi, daya mampu meningkat menjadi 191,91 MW dengan reserve margin sekitar 21 persen.

Manager Pengendalian Proyek PT PLN (Persero) UIP Nusra, Taufan Febri Herdian, menjelaskan bahwa PLTMG Sumbawa 2 dibangun untuk mengantisipasi risiko defisit daya pada Sistem Tambora. Sementara itu, SUTT 150 kV Jeranjang-Sekotong berfungsi meningkatkan keandalan jaringan transmisi di Pulau Lombok sekaligus membuka peluang pengembangan kawasan ekonomi, investasi, dan pariwisata di wilayah Sekotong.