Ia menjelaskan, secara administratif dan teknis, proses reaktivasi program KUR hampir rampung. Saat ini Bank NTT hanya menunggu penyelesaian koneksi sistem dengan Departemen Keuangan.

“Semua sudah beres, tinggal menunggu koneksi sistem komputer dengan Departemen Keuangan. Mudah-mudahan akhir bulan ini sudah selesai dan awal Juni KUR Bank NTT mulai berjalan,” ujarnya.

Charlie mengungkapkan penghentian penyaluran KUR pada 2019 lalu dipicu tingginya angka kredit bermasalah. Karena itu, Bank NTT kini menerapkan mekanisme seleksi yang lebih ketat terhadap calon penerima kredit untuk memastikan pembiayaan benar-benar digunakan bagi kegiatan usaha yang produktif.

Pada 2026, Bank NTT akan menyalurkan dua skema KUR. Pertama, KUR Mikro tanpa agunan dengan plafon pembiayaan hingga Rp100 juta. Kedua, KUR Kecil dengan plafon hingga Rp500 juta yang mensyaratkan adanya agunan.
Program tersebut akan difokuskan pada sektor-sektor produktif yang menjadi tulang punggung perekonomian daerah, seperti pertanian, peternakan, serta berbagai usaha mikro dan kecil lainnya.