KUPANG, KN – Wakil Wali Kota Kupang, Serena Cosgrova Francis, S.Sos., M.Sc., mendorong generasi muda untuk tidak sekadar menjadi penonton di era digital, melainkan tampil sebagai pelaku utama perubahan. Hal ini ditegaskannya saat menghadiri Opening Ceremony Pekan Ilmiah dan Seni Mahasiswa (PISMA) X Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) di Ballroom Hendrikus, Lantai 4 Gedung Rektorat UNWIRA Kupang, Senin (18/5/2026).

Acara pembukaan yang berlangsung meriah ini turut dihadiri oleh Rektor UNWIRA Kupang, Pater Dr. Stefanus Lio, para Wakil Rektor, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, Ni Luh Putu Sri Sandhi, serta jajaran dekan, ketua program studi, dan dosen.

Kolaborasi Teknologi dan Budaya Lokal

Dalam sambutannya, Wakil Wali Kota Kupang yang akrab disapa Serena ini memberikan apresiasi tinggi kepada seluruh panitia dan mahasiswa. Menurutnya, satu dekade perjalanan PISMA membuktikan bahwa mahasiswa UNWIRA terus konsisten bertumbuh, berkarya, dan berinovasi.

Serena juga menyoroti relevansi tema PISMA tahun ini dengan tantangan global, terutama di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan Artificial Intelligence (AI). Ia menilai Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki modal besar berupa kekayaan budaya dan pengetahuan lokal yang luar biasa untuk dipadukan dengan kemajuan teknologi.

“Ketika teknologi dipadukan dengan budaya, maka akan lahir karya-karya besar yang mampu bersaing secara global. Mahasiswa harus mampu mengubah potensi lokal menjadi kekuatan global melalui inovasi dan kreativitas,” ujar Serena.

Ia juga berpesan agar generasi muda Kupang dan NTT pada umumnya bisa memberikan kontribusi nyata dalam menghadirkan solusi atas berbagai tantangan daerah, bukan sekadar menjadi pengkritik situasi.

“Jadilah pencipta perubahan, bukan sekadar penumpang perubahan. Kota Kupang dan NTT membutuhkan anak-anak muda yang kreatif, inovatif, serta mampu menghadirkan solusi, bukan hanya mengkritik keadaan,” tegasnya.

Membentuk Insan Akademik yang Utuh

Senada dengan hal tersebut, Rektor UNWIRA Kupang, Pater Dr. Stefanus Lio, menegaskan bahwa PISMA bukan sekadar agenda tahunan biasa. PISMA merupakan ruang strategis untuk membangun kreativitas, intelektualitas, solidaritas, serta karakter generasi muda yang tangguh.

Pater Stefanus menjelaskan bahwa PISMA menggabungkan dua kekuatan besar manusia, yaitu ilmu pengetahuan dan seni.

“Ilmu membentuk pola pikir yang kritis dan rasional, sementara seni membentuk kepekaan rasa dan nilai-nilai kemanusiaan. Ketika keduanya berjalan bersama, akan lahir insan akademik yang utuh,” ungkap Rektor UNWIRA tersebut.

Ia berharap seluruh peserta dapat memanfaatkan momentum ini sebagai ruang belajar, berkompetisi secara sehat, serta berani berpikir besar demi menciptakan inovasi yang berdampak bagi masyarakat luas.

Sebagai wadah pengembangan diri, PISMA X tahun ini menyuguhkan berbagai perlombaan bergengsi yang mencakup bidang intelektual, digital, hingga pelestarian budaya. Beberapa kompetisi yang digelar antara lain:

  • Debat ilmiah
  • Inovasi digital
  • Business plan (rencana bisnis)
  • Perlombaan seni dan budaya

Melalui kegiatan ini, diharapkan budaya akademik dan kreativitas di lingkungan kampus UNWIRA terus menguat, sekaligus melahirkan inovator-inovator muda yang siap membangun Kota Kupang ke depan. (*)