KUPANG, KN — Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Kupang, Jeffry E. Pelt, SH, secara resmi membuka acara talkshow bertajuk “Merawat Moderasi Beragama, Menguatkan Wawasan Kebangsaan” pada Sabtu (16/5). Kegiatan yang diselenggarakan oleh Pemuda Katolik Komisariat Cabang (Komcab) Kota Kupang berkolaborasi dengan Senat Mahasiswa STIPAS Keuskupan Agung Kupang ini berlangsung khidmat di Aula Kampus STIPAS Kupang.

Talkshow ini menghadirkan sejumlah narasumber berkompeten dari lintas agama dan tokoh masyarakat, antara lain:

  • RD Dr. Florens Maxi Un Bria, S.Ag., M.Sos (Ketua STIPAS Keuskupan Agung Kupang)
  • Pdt. Melky Joni Ulu, M.Th (Ketua UPP Pengembangan Teologi dan PAG Majelis Sinode GMIT)
  • Dr. Syarifuddin Darajad, S.Sos., M.Hum (Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah NTT)

Dalam sambutannya, Sekda Kota Kupang Jeffry E. Pelt membagikan refleksi pribadi yang menyentuh mengenai indahnya hidup dalam keberagaman. Ia mengisahkan bagaimana keluarganya sendiri merupakan potret nyata dari toleransi karena terdiri dari anggota keluarga yang memeluk agama Islam, Katolik, hingga Protestan.

“Keberagaman itu sudah ada di dalam darah keluarga kami. Kami hidup dengan perbedaan agama, suku, dan budaya. Dan kami merasakan sendiri bahwa kalau saling menghargai, hidup itu menjadi indah sekali,” ungkap Jeffry di hadapan para peserta.

Bagi Jeffry, toleransi bukanlah sekadar slogan di atas kertas, melainkan praktik hidup sehari-hari yang harus terus dirawat. Sebagai bagian dari generasi Cipayung 88, ia mengaku memiliki kedekatan emosional dengan berbagai organisasi kepemudaan lintas iman sejak masa kuliah. Hingga saat ini, tradisi berdiskusi dan minum kopi bersama tokoh-tokoh muda lintas organisasi tetap rutin ia jalankan.

“Kita sering duduk bersama, minum kopi, berdiskusi tentang banyak hal. Karena bangsa ini hanya bisa kuat kalau anak mudanya mau saling mendengar dan berjalan bersama,” tambahnya.

Mengutip pesan mendalam dari mendiang Paus Fransiskus, Jeffry mengingatkan pentingnya menciptakan koneksi antarsesama manusia di tengah perbedaan. “Paus Fransiskus mengatakan, kita dipanggil untuk membangun jembatan, bukan tembok. Kalimat ini sangat dalam. Di tengah situasi hari ini, mari kita membangun jembatan yang menghubungkan keberagaman kita,” tegasnya seraya mengapresiasi inisiatif Pemuda Katolik dan STIPAS yang telah memfasilitasi ruang dialog sehat ini.