Bagi Jeffry, toleransi bukanlah sekadar slogan di atas kertas, melainkan praktik hidup sehari-hari yang harus terus dirawat. Sebagai bagian dari generasi Cipayung 88, ia mengaku memiliki kedekatan emosional dengan berbagai organisasi kepemudaan lintas iman sejak masa kuliah. Hingga saat ini, tradisi berdiskusi dan minum kopi bersama tokoh-tokoh muda lintas organisasi tetap rutin ia jalankan.

“Kita sering duduk bersama, minum kopi, berdiskusi tentang banyak hal. Karena bangsa ini hanya bisa kuat kalau anak mudanya mau saling mendengar dan berjalan bersama,” tambahnya.

Mengutip pesan mendalam dari mendiang Paus Fransiskus, Jeffry mengingatkan pentingnya menciptakan koneksi antarsesama manusia di tengah perbedaan. “Paus Fransiskus mengatakan, kita dipanggil untuk membangun jembatan, bukan tembok. Kalimat ini sangat dalam. Di tengah situasi hari ini, mari kita membangun jembatan yang menghubungkan keberagaman kita,” tegasnya seraya mengapresiasi inisiatif Pemuda Katolik dan STIPAS yang telah memfasilitasi ruang dialog sehat ini.