Pertama, menjaga integritas dan komitmen pelayanan. Ia menekankan tidak boleh ada penyimpangan, pengurangan kualitas, atau praktik mencari keuntungan di luar aturan.

“Integritas itu kesesuaian antara yang kita ucapkan dan yang kita kerjakan,” tegasnya.

Kedua, memastikan kualitas gizi sebagai prioritas utama. Ia mengingatkan MBG bukan sekadar memberi makan, tetapi memastikan standar gizi terpenuhi dari perencanaan hingga distribusi.

“Ini bukan restoran yang sekadar bikin kenyang. Ini program gizi,” ujarnya.

Ketiga, membangun kolaborasi kuat dengan pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan. “Jangan jalan sendiri-sendiri. Harus sinkron dari provinsi sampai desa,” katanya.

Keempat, responsif terhadap evaluasi dan perbaikan. “Jangan alergi kritik. Lebih baik diperbaiki sekarang daripada program ini dihentikan,” tegasnya.

Kelima, menghadirkan empati dan tanggung jawab sosial dalam pelaksanaan program. “Yang kita layani adalah anak-anak, ibu hamil, dan keluarga yang paling membutuhkan,” ujarnya.