“Obor ini melambangkan konsolidasi pemuda sebagai tulang punggung bangsa dan gereja. Setelah diterima Ketua Sinode, obor ini akan dilepas oleh Wakil Presiden RI menuju Pulau Rote sebagai beranda terselatan Nusantara. Ini adalah pesan damai dari NTT untuk dunia yang tengah luka,” ujarnya.

Selain pesan spiritual, festival ini juga menjadi ruang pemberdayaan ekonomi rakyat. Sebanyak 245 pelaku UMKM kuliner dan kerajinan turut ambil bagian, memadati area sekitar lokasi acara hingga jalur prosesi.

Ketua Pengurus Pemuda Sinode GMIT, Erens Blegur, mengapresiasi kebijakan Pemerintah Kota Kupang yang memberikan ruang luas bagi pelaku usaha kecil untuk berjualan.

“Tahun lalu perputaran uang mencapai Rp6 miliar. Dengan dukungan pemerintah dan sistem pembayaran QRIS dari Bank NTT, tahun ini kami menargetkan bisa menembus Rp10 miliar. Ini bagian dari semangat pemulihan ekonomi NTT,” ungkapnya.

Keterlibatan masyarakat juga terlihat dari partisipasi nelayan Oesapa yang menghias perahu mereka dengan ornamen Paskah dalam prosesi “Galilea”, sebagai simbol toleransi dan kebersamaan lintas komunitas.