Membasuh “Luka Dunia” dari Kupang: Pawai Paskah Jadi Motor Ekonomi dan Toleransi

Wali Kota Kupang dr. Chris Widodo tiba di lokasi pawai Paskah di Bundaran Tirosa Kota Kupang. (Foto: Agn/Koranntt.com)

Kupang, KN – Suasana Bundaran Tirosa, Kota Kupang, berubah menjadi lautan manusia pada Senin pagi (6/4). Ribuan warga memadati kawasan tersebut untuk merayakan Festival Paskah Pemuda Sinode GMIT bertajuk “Cahaya Damai dari Gerbang Selatan Nusantara, Dari Timur untuk Indonesia”.

Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WITA ini tidak hanya menjadi perayaan iman, tetapi juga momentum strategis Pemerintah Kota Kupang dalam memperkuat toleransi dan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Wali Kota Kupang dr. Christian Widodo bersama Wakil Wali Kota Serena C. Francis hadir langsung dalam kegiatan tersebut, didampingi Wakil Gubernur NTT, Ketua DPRD NTT Emi Nomleni, jajaran Forkopimda, serta tokoh lintas agama dari Islam, Katolik, Hindu, dan Buddha.

Kehadiran para pemimpin daerah dan tokoh agama ini mempertegas komitmen menjadikan Kupang sebagai City of Love and Harmony.

Ketua Panitia, Simson Polin, menegaskan makna simbolis “Obor Perdamaian” yang dibawa dari Kabupaten Belu sebagai bagian dari rangkaian kegiatan.

“Obor ini melambangkan konsolidasi pemuda sebagai tulang punggung bangsa dan gereja. Setelah diterima Ketua Sinode, obor ini akan dilepas oleh Wakil Presiden RI menuju Pulau Rote sebagai beranda terselatan Nusantara. Ini adalah pesan damai dari NTT untuk dunia yang tengah luka,” ujarnya.

Selain pesan spiritual, festival ini juga menjadi ruang pemberdayaan ekonomi rakyat. Sebanyak 245 pelaku UMKM kuliner dan kerajinan turut ambil bagian, memadati area sekitar lokasi acara hingga jalur prosesi.

Ketua Pengurus Pemuda Sinode GMIT, Erens Blegur, mengapresiasi kebijakan Pemerintah Kota Kupang yang memberikan ruang luas bagi pelaku usaha kecil untuk berjualan.

BACA JUGA:  LBH SIKAP Beberkan Rapor Merah 5 Tahun Yentji Sunur-Thomas Ola

“Tahun lalu perputaran uang mencapai Rp6 miliar. Dengan dukungan pemerintah dan sistem pembayaran QRIS dari Bank NTT, tahun ini kami menargetkan bisa menembus Rp10 miliar. Ini bagian dari semangat pemulihan ekonomi NTT,” ungkapnya.

Keterlibatan masyarakat juga terlihat dari partisipasi nelayan Oesapa yang menghias perahu mereka dengan ornamen Paskah dalam prosesi “Galilea”, sebagai simbol toleransi dan kebersamaan lintas komunitas.

Salah satu pelaku UMKM, Misel, mengaku merasakan langsung dampak positif kebijakan tersebut.

“Puji Tuhan, saya bisa jualan dimsum keju di lokasi strategis. Kebijakan Pemkot sangat membantu kami. Selain berdagang, kami juga bisa merasakan kemeriahan Pawai Paskah bersama warga,” katanya.

Antusiasme juga datang dari masyarakat umum. Maria (30), warga yang hadir bersama keluarganya, menilai festival ini bukan sekadar kegiatan keagamaan, melainkan pesta rakyat yang inklusif.

“Pawai tahun ini sangat ramai. Kita bisa menikmati suasana sambil mendukung UMKM lokal. Penataannya juga rapi, jadi kami merasa aman dan nyaman,” ujarnya.

Festival Paskah Pemuda GMIT ini menjadi bukti bahwa kegiatan keagamaan dapat bertransformasi menjadi penggerak ekonomi sekaligus mempererat persaudaraan lintas iman.

Di bawah pengelolaan Pemerintah Kota Kupang, semangat toleransi dan kebersamaan terus dirawat, menjadikan kota ini sebagai “Nusa Terindah Toleransi”.
“Soda molek neu kita basa” — salam sejahtera untuk kita semua. (agn/ab)

IKUTI BERITA TERBARU KORANNTT.COM di GOOGLE NEWS