“Setiap kita memiliki ‘salib’ masing-masing. Dalam kepemimpinan, saya juga menghadapi tantangan kebijakan yang harus berpihak pada rakyat. Pemuda bukan hanya masa depan, tetapi penentu arah masa kini,” tegasnya, mengutip semangat pemikiran Soekarno tentang kekuatan pemuda.
Sementara itu, Ketua Majelis Klasis Kota Kupang, Pdt. Delviana Poyck-Snae, menyebut prosesi Jalan Salib sebagai warisan iman yang berharga dari generasi sebelumnya. Ia menjelaskan lima makna utama kegiatan tersebut, yakni sebagai refleksi teologis, katekese visual, kesaksian iman di ruang publik, wadah persekutuan jemaat, serta sarana transformasi hidup.
“GMIT turut membentuk peradaban Kota Kupang. Wajah kota ini merupakan hasil kontribusi banyak orang yang memberikan diri bagi kota tercinta,” ujarnya.
Antusiasme masyarakat terlihat tinggi sepanjang rute prosesi. Salah satu warga, Hansel, mengungkapkan rasa syukurnya atas kehadiran pemerintah dalam kegiatan keagamaan tersebut.
“Kami mendoakan agar Tuhan selalu memberkati Bapak Wali Kota dalam menjalankan tugasnya memimpin kota ini,” katanya.



Tinggalkan Balasan