Selama ini, Bank NTT disebut terus melakukan pembenahan internal, mulai dari peningkatan kualitas layanan, penguatan manajemen risiko, hingga transformasi digital guna menjaga daya saing di tengah kompetisi perbankan nasional.

Selain fungsi bisnis, Bank NTT juga berperan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat, terutama melalui pembiayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Kredit Usaha Mikro Utama (KUMU), bank tersebut telah membantu lebih dari 10.000 pelaku usaha dengan total pembiayaan sekitar Rp150 miliar.

“Bank NTT tidak hanya memberikan pembiayaan, tetapi juga melakukan pendampingan kepada pelaku UMKM agar usaha mereka berkembang dan memiliki akses pasar lebih luas,” kata Melki.

Di sisi lain, pemerintah daerah juga menyoroti penurunan dividen Bank NTT dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut dipengaruhi berbagai faktor, termasuk dampak pandemi COVID-19 terhadap kemampuan debitur dalam memenuhi kewajiban kredit.

Meski demikian, Pemprov NTT tetap menargetkan penerimaan dividen sebesar Rp110 miliar pada tahun anggaran 2026. Target itu diupayakan melalui peningkatan profitabilitas, ekspansi kredit yang selektif, efisiensi operasional, serta penguatan pendapatan berbasis layanan (fee based income).