“Jika kampus bergerak, kebijakan berpihak, dan petani diperkuat, maka masa depan pertanian lahan kering NTT akan lebih cerah,” tegasnya.

Pernyataan tersebut menjadi pesan strategis bahwa masa depan petani lahan kering NTT sangat bergantung pada sinergi antara dunia akademik, legislatif, dan masyarakat dalam membangun sistem pangan yang adil dan berkelanjutan.

Kuliah umum tersebut juga menjadi ruang refleksi atas masa depan pertanian NTT di tengah perubahan iklim dan dinamika pasar global. Ahmad Yohan mendorong generasi muda dan kalangan akademisi untuk terlibat aktif dalam riset dan inovasi pertanian yang relevan dengan kondisi daerah.

“Politik pangan harus berpihak. Jika tidak, petani lahan kering akan terus menjadi korban kebijakan yang tidak kontekstual,” pungkasnya.

Kegiatan ini diharapkan menjadi momentum konsolidasi gagasan antara legislatif, akademisi, dan masyarakat dalam merumuskan masa depan pertanian yang lebih adil dan berkelanjutan bagi NTT. (*/ab)