Ia juga menekankan perlunya investasi pada teknologi pertanian berbasis iklim, penguatan akses permodalan, serta jaminan harga yang adil bagi petani. Tanpa keberpihakan anggaran dan regulasi yang konsisten, kata dia, petani lahan kering akan terus menghadapi siklus kerentanan ekonomi.
Dalam konteks ketahanan pangan nasional, Ahmad Yohan mengingatkan bahwa ketergantungan pada impor bukanlah solusi jangka panjang.
Pemerintah pusat dan daerah, lanjutnya, harus bersinergi untuk memperkuat cadangan pangan domestik melalui peningkatan produksi lokal.
“Undana harus menjadi laboratorium hidup bagi pengembangan pertanian lahan kering. Risetnya harus menyentuh sawah dan kebun rakyat,” ujarnya.
Sebagai pimpinan di Komisi IV DPR RI yang membidangi pertanian, ia menyatakan siap membuka ruang komunikasi antara Undana dan kementerian teknis untuk mendukung program pengembangan pertanian di NTT.
Ia berharap Undana tidak hanya mencetak sarjana pertanian, tetapi juga melahirkan inovator dan wirausaha muda di bidang agroteknologi yang mampu mengubah wajah pertanian lahan kering menjadi lebih modern dan berdaya saing.



Tinggalkan Balasan