Frans juga mengingatkan bahwa, jabatan Ketua bukan sekadar posisi administratif, tetapi membutuhkan dedikasi, loyalitas, dan kepedulian tinggi. Ia menyebut kepengurusan olahraga sebagai kerja sosial yang mungkin tidak memberikan keuntungan materi, namun menjadi investasi besar dalam membentuk generasi muda berprestasi, khususnya melalui cabang olahraga taekwondo.
“Saya yakin target itu bisa tercapai jika ada kolaborasi internal dan eksternal yang kuat. Apalagi jika didukung jejaring yang baik dari pengurus. Itu akan menjadi kekuatan besar bagi Taekwondo NTT,” ujarnya.
Sementara itu, Kabid Organisasi Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) NTT, Restu Herdani Baptista Dupe, turut menyampaikan dukungan serta pesan agar pelaksanaan musyawarah provinsi berjalan demokratis dan menjunjung tinggi nilai-nilai organisasi.
Restu memastikan bahwa Taekwondo Indonesia di NTT tidak mengalami dualisme kepengurusan. Ia berharap apabila terdapat kandidat lain dalam musyawarah provinsi, panitia dapat menerima dan memfasilitasi secara terbuka sesuai mekanisme yang berlaku.



Tinggalkan Balasan