Ia menegaskan bahwa perusahaan memang berorientasi pada keuntungan, namun tidak boleh melupakan sumber kepercayaan yang melahirkan laba tersebut.
“Perusahaan boleh mencari laba, tetapi tidak boleh lupa asal laba itu. Laba Bank NTT lahir dari kepercayaan masyarakat dan pemerintah daerah sebagai pemegang saham,” tambahnya.
Menurut Rahmat, CSR dimaknai sebagai cara untuk mengembalikan sebagian manfaat pertumbuhan laba bank kepada lembaga-lembaga yang menjaga nilai kemanusiaan, pendidikan, dan moralitas.
Bank NTT memandang bahwa pembangunan daerah tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur, tetapi juga dari kekuatan nilai etika dan spiritualitas.
Dalam konteks tersebut, seminari dinilai sebagai salah satu pilar penting dalam membentuk karakter dan kepemimpinan yang berorientasi pada pengabdian kepada sesama.
Rahmat juga menyampaikan apresiasi kepada Gubernur NTT atas rekomendasi dan perhatian yang diberikan sehingga penyaluran CSR dapat tepat sasaran dan selaras dengan kebutuhan pembinaan nilai dan karakter di daerah.



Tinggalkan Balasan