Dari sisi permodalan, pemerintah mendorong optimalisasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebagai instrumen pembiayaan UMKM.

Gubernur menyebut Bank NTT memiliki plafon KUR hingga Rp1 triliun, dengan bunga rendah, serta didukung oleh perbankan nasional seperti BNI, BRI, dan Bank Mandiri.

“Uang KUR ini uang negara. Pemerintah daerah wajib ikut memastikan penyalurannya tepat sasaran,” tegasnya.

Selain pembiayaan, Gubernur menekankan pentingnya pendampingan dan pelatihan berkelanjutan. Menurutnya, perbankan tidak hanya menyalurkan kredit, tetapi juga memiliki anggaran pelatihan untuk meningkatkan kapasitas pelaku UMKM, mulai dari produksi, pengemasan, hingga manajemen usaha.

Gubernur juga menyoroti lemahnya literasi keuangan sebagai kendala serius dalam pengembangan UMKM. Ia menegaskan pentingnya disiplin pengelolaan keuangan agar modal usaha tidak digunakan untuk konsumsi dan kewajiban kredit dapat dipenuhi secara berkelanjutan.

Pada aspek pemasaran, Gubernur menyatakan bahwa NTT Mart hadir sebagai pasar yang menjamin penyerapan produk UMKM. Ia bahkan mendorong aparatur sipil negara (ASN) menjadi pasar tetap (captive market) melalui belanja rutin produk lokal.