Kupang, KN – Komitmen Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, dalam mewujudkan swasembada pangan nasional, mulai menunjukkan hasil nyata di berbagai daerah, termasuk di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Pada tahun pertama kepemimpinan Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena dan Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma, produktivitas di sektor pertanian, khususnya komoditas padi, mengalami peningkatan signifikan.
Berdasarkan data KSA Badan Pusat Statistik (BPS) dan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, produktivitas padi pada tahun ini meningkat 35,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Jika pada tahun 2024, produksi padi NTT hanya mencapai 707.793 ton, maka pada tahun 2025 ini, produksinya melonjak hingga 956.832 ton. Capaian ini sekaligus menjadi indikator keberhasilan awal duet kepemimpinan Melki–Johni dalam memperkuat ketahanan pangan daerah.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, Joaz Bily Umbu Wanda, menjelaskan, peningkatan tersebut merupakan hasil dari berbagai intervensi strategis yang dilakukan pemerintah provinsi, dengan dukungan penuh dari pemerintah pusat.
Ia menyebut, tidak hanya produktivitas padi yang meningkat, tetapi juga produksi beras secara keseluruhan, yang meningkat 145.870 ton dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini sejalan dengan Dasa Cita Gubernur dan Wakil Gubernur NTT, terkait peningkatan produksi pangan di bidang pertanian.
“Produksi padi meningkat sekitar 35 persen dibandingkan tahun lalu. Hal yang sama juga terjadi pada produksi beras. Ini merupakan hasil kerja bersama antara pemerintah, penyuluh, dan para petani di lapangan,” ujar Umbu, kepada Koranntt.com, Rabu 10 Desember 2025.
Ia menerangkan, salah satu faktor utama peningkatan produksi adalah perubahan pola tanam. Jika sebelumnya sebagian besar petani hanya mampu menanam padi satu kali dalam setahun, kini dengan dukungan curah hujan yang lebih baik, ketersediaan alat dan mesin pertanian (alsintan), benih unggul, pupuk, serta pendampingan penyuluh, petani mampu menanam dua kali bahkan hingga tiga kali dalam setahun.
“Kondisi ini terus kita jaga. Harapan Bapak Gubernur dan Wakil Gubernur sangat jelas, yakni agar NTT tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan daerah sendiri, tetapi juga memberikan kontribusi nyata secara nasional di sektor pertanian,” ungkapnya.
Dikatakan Umbu, keberhasilan tersebut juga tercermin dari meningkatnya penyerapan gabah dan beras oleh Perum Bulog. Jika pada tahun lalu Bulog hanya menyerap sekitar 400 ton gabah dan beras dari NTT, maka pada tahun ini penyerapan melonjak drastis hingga mencapai 6.000 ton.
“Hal ini tentu membawa dampak positif bagi kesejahteraan petani. Gabah petani dibeli dengan harga Rp6.500 per kilogram, sementara beras dihargai Rp12.000 per kilogram. Harga yang menguntungkan ini membuat petani semakin bersemangat mengelola lahan pertanian mereka. Ke depan, pemerintah juga berencana memfasilitasi petani dengan mesin penggilingan untuk meningkatkan nilai tambah hasil panen,” jelasnya.
Umbu menegaskan, capaian ini tidak lepas dari perhatian besar Pemerintah Provinsi NTT terhadap sektor pertanian. Selain dukungan APBN berupa biaya operasional penyuluh pertanian sebesar Rp500 ribu per orang per bulan, Pemerintah Provinsi NTT melalui APBD I juga memberikan tambahan insentif sebesar Rp260 ribu per orang per bulan kepada 1.918 penyuluh pertanian. Total anggaran yang dialokasikan untuk penyuluh pertanian tahun ini mencapai sekitar Rp6 miliar.
“Ini adalah bentuk perhatian besar dari Bapak Gubernur dan Wakil Gubernur terhadap peran strategis penyuluh pertanian. Mereka adalah ujung tombak di lapangan,” terangnya.
Selain itu, pemerintah juga menyalurkan berbagai bantuan sarana produksi pertanian, seperti benih padi, jagung, dan hortikultura, alsintan berupa traktor roda dua dan empat, pompa air, irigasi perpipaan, kultivator, rotavator, hingga alat panen modern. Program Pekarangan Pangan Bergizi dan Lestari juga terus digalakkan untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga.
Hal ini, lanjut Umbu, membawa dampak positif, yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Petani kini merasa lebih sejahtera karena hasil pertanian meningkat, pendapatan bertambah, dan lahan dapat diolah dengan lebih cepat dan efisien. Mereka juga mampu memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk biaya pendidikan anak-anak, serta tetap menjalankan aktivitas sosial dan budaya.
“Pemerintah ingin masyarakat benar-benar merasakan kehadiran negara. Bantuan bibit dan benih kita sebar ke seluruh wilayah NTT, terutama di sentra-sentra produksi. Kita ingin petani tahu bahwa pemerintah ada dan bekerja bersama mereka,” pungkas Umbu.
Capaian ini menjadi fondasi kuat bagi NTT, untuk terus melangkah menuju kemandirian pangan, sejalan dengan visi nasional swasembada pangan dan pembangunan pertanian berkelanjutan. (*)

