Menurutnya, hal ini penting untuk mendukung pengembangan program One Village One Product (OVOP) di desa-desa, serta mendorong organisasi seperti PGRI, untuk terlibat dalam program One Community One Product (OCOP). Sementara di tingkat sekolah, Gubernur NTT juga mencanangkan gerakan One School One Product (OSOP).

“Dengan program-program ini, kita ingin roda ekonomi NTT berputar di dalam daerah sendiri,” katanya.

Gubernur juga menyoroti tingginya aliran uang keluar dari NTT yang mencapai sekitar Rp51 triliun per tahun. Ia berharap angka tersebut dapat ditekan menjadi Rp40 triliun sehingga lebih banyak perputaran ekonomi terjadi di wilayah NTT sendiri.

“Kita harus mulai dari sekarang. Jika ekonomi dapat berputar di daerah kita, maka kesejahteraan masyarakat akan semakin meningkat,” tegasnya.

Dengan alokasi anggaran besar untuk pendidikan serta dorongan penguatan ekonomi lokal, pemerintah berharap pembangunan sumber daya manusia dan ekonomi NTT dapat berjalan beriringan. (*)