Esau berharap, kerja literasi sejarah ini tidak berhenti pada penerbitan buku saja. Ia mendorong, agar materi sejarah Tanof dapat disebarluaskan ke sekolah-sekolah di Kota Kupang.

“Mungkin buku ini bisa menjadi bahan ajar muatan lokal. Selain itu, situs ini juga dapat dimasukkan dalam program wisata budaya dan sejarah Kota Kupang,” harapnya.

Buku yang diterbitkan memuat warisan budaya Kerajaan Taebenu, termasuk kisah makam kuno Raja-Raja Tanof, permaisuri, para panglima, serta hubungan historis dengan keturunan Sabu, Arab, dan Tionghoa. Warisan tersebut menjadi bukti kuatnya perjumpaan budaya dalam sejarah Taebenu.

Tidak hanya itu, buku ini juga menyoroti kisah Sonaf atau istana Kerajaan Taebenu, yang dulunya menjadi pusat pertemuan, penyampaian aspirasi, hingga pemujaan leluhur.

Melalui dokumentasi sejarah ini, pembaca diajak memetik nilai-nilai kehidupan yang relevan untuk memahami perjalanan budaya dan identitas masyarakat Taebenu hingga saat ini. (AGN/ADV)