“Jadi biasa saya info ke RT untuk merangkul, memberdayakan dan menyadarkan mereka yang belum aktif,” jelas Jonetha, perihal optimalisasi keterlibatan warga.

Jonetha berharap solidaritas dan kerja sama antara pemerintah dan warga di Kelurahan Nunleu dengan pihak-pihak terkait lainnya dapat terjalin dengan baik dan terjaga kualitasnya.

Pada prinsipnya pihak kelurahan memastikan akan menindaklanjuti dan siap melaksanakan program dari pemerintahan kota kupang.

“Ya semua informasi dari Pak Wali Kota, kita siap laksanakan demi masyarakat Kota Kupang yang lebih baik,” pungkas Jonetha.

Sementara itu, Sekretaris Kelurahan Ade Ayub Peter Ndoen, S.H. menjelaskan, pihak kelurahan sudah bekerja untuk distribusi sampah. Ia juga sudah menghimbau masyarakat, agar distribusi sampah ke TPS dilaksanakan bersama petugas kebersihan Kota Kupang.

“Sudah ada titik-titik pembuangan sampah (TPS), dan sosialisasi di Kelurahan Nunleu. Ada 3 titik TPS di wilayah Nunleu,” ujar Ade saat ditemui di kantornya.

Ia menerangkan, salah satu tantangan dalam penanganan sampah di Kelurahan Nunleu, adalah lokasi pembuangan sampah karena kawasan padat penduduk.

Jika sekali saja terjadi keterlambatan pengangkutan sampah, dapat mengganggu kenyamanan hidup warga di sekitarnya.

“Dulu pernah ada TPS dekat rumah warga. Lantaran terjadi penumpukan akibat terlambat angkut, terlebih posisinya di depan rumah warga, mengakibatkan bau tidak sedap mengganggu aktivitas warga,” ujar Ade.

Tahun ini, Festival Budaya dilaksanakan di lahan belakang Gereja Pentekosta di Indonesia (GPdI) Calvary. Tahun ini warga mengusung konsep etnis Rote. Selain itu, warga pun melibatkan UMKM lokal untuk berjualan di lapak yang disediakan. Pagelaran tersebut dikoordinasikan bersama Dinas Pariwisata Kota Kupang.

“Kalau UMKM kita punya itu ada. Waktu event budaya itu kita selalu tampilkan mereka. UMKM ada yang tenun ikat dan konsep daur ulang dari barang bekas seperti botol plastik pernah dibuat,” tutup Ade. (AGN/ADV)