“Negara ini memiliki beragam kekayaan adat dan budaya luar biasa. Terdapat ragam bahasa, suku, budaya dan agama. Keragaman ini menjadi kekuatan bangsa yang dihargai dan apresiasi sebagai identitas kehidupan yang baik sebagai persatuan bangsa Bhinneka Tunggal Ika,” kata Renol Tuan.
Dikatakannya, Kota Kupang sebagai ibukota Provinsi NTT, dengan penduduk multikultural memiliki kekuatan tersendiri. Kota Kupang yang terdiri dari enam Kecamatan dan 51 kelurahan ditempati oleh 466.632 jiwa yang berasal dari berbagai etnis atau suku signifikan yaitu Timor, Rote, Sabu, Flores, Sumba, Tionghoa dan sebagian kecil pendatang dari Bugis dan Jawa. Kota Kupang, sehingga dapat dikatakan miniatur Provinsi NTT.
“Ada beberapa rangkaian kegiatan ini, yaitu pagelaran seni budaya etnis Flobamorata mencakup tarian lufut Timor, Pado’a Sabu Raijua, Tarian Gawi Ende dan mini lokal expo seperti pameran tenun adat Bello, pangan lokal, dan lain-lain,” jelasnya.
Renol menjelaskan, seluruh kegiatan ini akan berlangsung selama dua hari di Lapangan Nunhala Kelurahan Bello. Biaya yang dibutuhkan dalam penyelenggaraan kegiatan ini sebesar Rp14.000.000.00 yang bersumber dari Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) Kantor Camat Maulafa Tahun Anggaran 2025.



Tinggalkan Balasan