
Beragam lomba yang digelar, antara lain: Lomba tarian Ja’i antar-RW (etnis Bajawa), Lomba kebersihan antar-RT, Lomba daur ulang sampah tingkat TK/PAUD, Lomba pidato bahasa Inggris dan Indonesia bertema lingkungan untuk siswa SD, Lomba pangan lokal berbahan jagung dengan harga maksimal Rp250.000, dan Pameran UMKM sebagai wadah penguatan ekonomi warga.
Agar penilaian berjalan adil dan transparan, lanjutnya, pihak kelurahan menggandeng dewan juri independen.
“Juri tarian Ja’i kami ambil dari Sanggar Budaya Provinsi NTT, juri daur ulang dari SD Inpres Liliba dan pihak kelurahan, sedangkan lomba pangan lokal melibatkan ahli gizi dari Dinas Kesehatan dan Poltekkes,” jelas Viktor.
Festival ini dibuka langsung oleh Wali Kota Kupang dr. Christian Widodo, dan kegiatan budaya yang diselenggarakan di Kelurahan Liliba bukan hal yang baru.
“Lomba kebersihan antar-RT sudah kami gelar sejak 2019. Partisipasi warga juga semakin meningkat setiap tahun,” tambahnya.
Meski demikian, Viktor mengakui masih ada tantangan dalam pelaksanaan kegiatan kolektif, terutama keterbatasan dana dan partisipasi sebagian warga.



Tinggalkan Balasan