“Mari kita pertahankan budaya, tingkatkan kreativitas, dan secara bersamaan menghidupkan ekonomi rumah tangga masyarakat,” tutup Jefri dengan penuh semangat.

Sekda Kota Kupang Jefri Pelt menyerahkan hadiah kepada pemenang juara 1 lomba tenun motif Sepe. (Foto: RKK/Koranntt.com)

Salah satu juri, Yurike Adu, menegaskan bahwa, Festival Sepe memiliki peran penting dalam proses regenerasi penenun di Kota Kupang.

“Kami ingin mengubah pandangan generasi muda bahwa menenun bukan sesuatu yang kuno. Justru dengan menenun, kita bisa menghasilkan karya yang bernilai tinggi dan modern. Harapannya, semakin banyak siswa dan mahasiswa terlibat dalam kegiatan ini,” ungkap Yurike.

Sementara itu, pelaku seni sekaligus penenun senior Berthania Lobo, menyampaikan mengapresiasi atas dukungan Pemerintah Kota Kupang terhadap keberlangsungan festival.

“Festival Sepe sudah menjadi ikon kota ini, dan kami sangat menyambut baik. Peserta dari kalangan SMA dan mahasiswa menunjukkan antusiasme luar biasa. Inilah harapan kita, agar terjadi regenerasi penenun di masa depan,” ujarnya.

Wanita yang akrab disapa Mama Bertha ini juga berharap, agar pemerintah terus memberikan perhatian dan pembinaan bagi para penenun lokal.

Salah satu penenun senior yang juga menjadi juri dalam lomba tenun motif Sepe, Bertania Lobo (Foto: RKK/Koranntt.com)

“Kami butuh pendampingan dan juga modal untuk mengembangkan kegiatan menenun. Terima kasih kepada Bapak Wali Kota dan Ibu Wakil Wali Kota, yang selalu mengenakan tenun Sepe. Itu sangat membantu kami dalam mempromosikan karya penenun khususnya yang ada di Kota Kupang,” katanya.

Melalui Festival Sepe 2025, semangat pelestarian budaya dan kreativitas lokal terus hidup di tengah masyarakat. Kota Kupang tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga menenun masa depan yang penuh warna dan harapan. (RKK/ADV)