“Setelah membangun rumah ibadah yang megah, tantangan berikutnya adalah membangun Gereja yang hidup, yaitu keluarga dan pribadi kita masing-masing. Gereja bukan hanya tempat beribadah, tetapi ruang untuk menumbuhkan kasih, iman, dan karakter,” tegasnya.
Ia juga mengajak seluruh jemaat untuk menjadikan momentum ini sebagai perayaan iman dan tanggung jawab sosial, dengan terus melibatkan Gereja dalam mendukung pembangunan daerah.
Dalam kesempatan itu, Gubernur Melki juga menyinggung berbagai persoalan sosial di NTT, antara lain rendahnya kemampuan literasi dan numerasi di kalangan pelajar serta meningkatnya kasus HIV/AIDS di usia produktif.
Ia menambahkan bahwa Pemerintah Provinsi NTT sedang menyiapkan kebijakan Jam Belajar dan Jam Ibadah Keluarga setiap pukul 17.30 – 19.00 WITA (kecuali hari Sabtu) untuk mengembalikan peran keluarga sebagai tiang utama pendidikan dan pembinaan iman anak-anak.
“Kami menyiapkan tiga tungku penguatan, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat, melalui kolaborasi tokoh agama, tokoh masyarakat, serta seluruh pemangku kepentingan sampai tingkat RT/RW. Semua harus bergerak bersama untuk memperkuat pendidikan moral dan karakter anak. Kita dorong peran keluarga sebagai benteng pertama dan terakhir bagi anak,” jelasnya.



Tinggalkan Balasan