“Kita ingin agar festival ini menjadi momentum untuk mempromosikan keindahan alam, kuliner, dan produk-produk kreatif Flobamorata. Dunia harus tahu bahwa NTT tidak hanya kaya budaya, tapi juga punya potensi besar di bidang pariwisata dan ekonomi lokal,” ujar Melki pada kesempatan tersebut.
Berdasarkan informasi dari Ditjen Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan Kemenbud RI, IPACS dilaksanakan di Kupang sebagai bentuk diplomasi halus (soft diplomacy) Indonesia di kancah internasional.
IPACS 2025 juga hadir sebagai momentum strategis untuk memperkuat jejaring, mengembangkan inovasi, serta menegaskan kembali peran budaya dalam agenda pembangunan pasca-2030, demi ketahanan, aksi iklim, dan pelestarian warisan bagi generasi mendatang.
IPACS dilakukan dengan tujuan penguatan jejaring budaya, dialog dan apresiasi, implementasi Culture 2030 Goal, diplomasi inklusif regional, dan pemberdayaan berbasis komunitas.
Kegiatan dilaksanakan dengan prinsip penguatan hubungan antara Indonesia dan negara-negara Pasifik, pertukaran budaya yang setara dalam proses penciptaan budaya Pasifik, kesadaran akan urgensi perubahan iklim, menjaga pembangunan berkelanjutan, serta perwujudan pengaruh dan kepemimpinan Indonesia dalam dunia internasional.
Dalam kesempatan yang sama, tim Ditjen Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan Kemenbud RI menyampaikan bahwa undangan telah disebarkan ke tujuh belas negara di Pasifik-Oseania.
Ketujuh belas negara tersebut adalah Negara Federasi Mikronesia, Republik Fiji, Republik Kiribati, Republik Nauru, Kaledonia Baru, Republik Palau, Papua Nugini, Republik Kepulauan Marshall, Samoa, Kepulauan Salomon, Kerajaan Tonga, Tuvalu, Republik Vanuatu, Kepulauan Cook, Polinesia Prancis, Niue, dan Republik Demokratik Timor Leste. Dari negara-negara undangan tersebut, 10 negara telah mengkonfirmasi kehadiran mereka, dan lima di antaranya menyatakan akan menghadirkan langsung Menteri Kebudayaan dari masing-masing negara.
IPACS akan diawali dengan residensi selama satu minggu, yang berlangsung pada 3 -10 November 2025 di Kupang. Residensi ini dihadiri oleh tiga praktisi budaya dari negara-negara undangan. Para praktisi budaya akan belajar tentang kerajinan bambu, musik dan tari tradisional di Kupang sebelum memamerkan hasil karya residensinya pada acara puncak penyelenggaraan IPACS. (Biro Adpim)







Tinggalkan Balasan