“Lokasi PLTU ini cukup dekat dengan pusat beban di Kota Kupang, sehingga rugi energi dapat diminimalkan. Dengan daya mampu 100 MW, PLTU Timor-1 kini menjadi pembangkit terbesar di Sistem Timor dan diharapkan menjadi base load bagi wilayah ini,” jelas Asmar.
Asmar menambahkan, PLN juga menerapkan pengelolaan limbah sesuai regulasi lingkungan. Air laut yang digunakan untuk sistem pendingin turbin rutin dipantau dan diuji agar sesuai dengan parameter baku mutu.
“Fly Ash Bottom Ash (FABA) dari PLTU Timor-1 tidak termasuk limbah B3 dan dapat dimanfaatkan, antara lain sebagai bahan bangunan seperti batako,” ujarnya.
Sementara itu, Manager Perizinan dan Komunikasi PLN UIP Nusra, Bobby Robson Sitorus, menjelaskan bahwa PLTU Timor-1 menjadi infrastruktur strategis karena tidak hanya menyuplai listrik untuk wilayah Kupang, tetapi juga hingga ke Atambua, Kabupaten Belu — kota terbesar kedua di Pulau Timor.
“Kami bangga dapat mengajak media melihat langsung PLTU Timor-1. Kegiatan ini penting agar informasi yang disampaikan ke publik lebih akurat, sekaligus menunjukkan bahwa pasokan listrik ini turut mendukung wilayah lain melalui sistem transmisi,” kata Bobby.



Tinggalkan Balasan