Kupang, KN – PT PLN (Persero) melalui Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra), terus mendorong pengembangan energi baru terbarukan (EBT), di Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya melalui Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP).

Manajer Sub Bidang Perizinan dan Komunikasi PLN UIP Nusra, Boby Robson Sitorus, mengungkapkan bahwa secara keseluruhan terdapat 575 potensi PLTP di Indonesia, dan 415 proyek PLTP sedang dikerjakan oleh PLN.

“Di NTT saat ini terdapat tiga PLTP yang akan dikembangkan, yakni Ulumbu, Mataloko, dan Atadei. Selain itu, pemerintah juga memberikan ruang bagi pihak swasta untuk mengembangkan potensi PLTP di Waesano, Sokoria, dan Nage,” jelas Boby, Rabu (22/10/2025).

Boby menjelaskan, sesuai dengan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2024–2034, PLN menargetkan pembangunan sistem kelistrikan sebesar 295 MW di wilayah Timor dalam 10 tahun ke depan.

Sementara di wilayah Flores, potensi pengembangan PLTP mencapai 162 titik, dengan total kapasitas kelistrikan – termasuk PLTP, PLTS, dan PLTD – mencapai 343 MW.

Selain di wilayah Timor dan Flores, Pulau Sumba juga menyimpan potensi PLTS yang juga akan dikembangkan. “Di Waingapu juga terdapat potensi pengembangan PLTS,” tambahnya.

Menurut Boby, PLTP Ulumbu saat ini hanya memasok sekitar 50 persen kebutuhan listrik wilayah Manggarai.

“Kapasitas PLTP Ulumbu sebesar 10 MW, sedangkan beban puncak di wilayah tersebut mencapai 20 MW. Oleh karena itu, kami akan mengembangkan tambahan kapasitas sebesar 30 MW,” ujarnya.

Untuk PLTP Mataloko yang mulai dikembangkan pada tahun 2012, PLN menggunakan uap panas bumi, dari sumur dengan kedalaman 1.500–2.000 meter. PLN berencana menambah kapasitas sebesar 20 MW di lokasi tersebut.

Sementara itu, di Atadei, Lembata, sistem kelistrikan masih sepenuhnya bergantung pada PLTD yang bahan bakarnya disubsidi oleh negara. PLN merencanakan pembangunan PLTS 5 MW dan PLTP Atadei 10 MW dengan target waktu 10 tahun ke depan.

Boby menegaskan, pentingnya pengembangan energi panas bumi sebagai bagian dari transisi energi menuju EBT. “Potensi panas bumi di Pulau Flores diperkirakan mencapai 999 MW. PLTP adalah sistem ramah lingkungan. Setelah uap digunakan, ia akan kembali menjadi air dan dipompa ke dalam bumi, sehingga tidak merusak lingkungan,” terangnya.

Ia juga menambahkan bahwa PLN secara aktif melakukan sosialisasi kepada masyarakat, termasuk pemerintah daerah dan masyarakat adat, untuk menjelaskan bahwa PLTP bukan kegiatan pertambangan.

Selain proyek energi, PLN juga menjalankan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), di antaranya pengembangan tanaman hortikultura, pengembangan desa wisata Wogo, serta perbaikan jalan sebagai bentuk kontribusi nyata kepada masyarakat di sekitar proyek.

“Pendekatan kepada masyarakat terus kami lakukan dengan prinsip FPIC (Free, Prior and Informed Consent). Bahkan, kadang masyarakat yang bukan pemilik lahan juga hadir dalam diskusi dan sosialisasi. Kami ingin proses ini inklusif dan transparan,” tutup Boby. (*)