“Kami memiliki 16 pekerja, dan semuanya merasakan manfaat dari bantuan PLN ini. Semoga dukungan seperti ini bisa terus berlanjut,” tambah Khairul.

Sementara itu, salah satu pekerja UMKM Batako Gunung Sari, Lalu Ersan, mengungkapkan bahwa keberadaan mesin cetak dari PLN membuat proses produksi jauh lebih ringan dan cepat. Ia menilai pengolahan FABA menjadi batako juga relatif mudah dan tidak berbeda jauh dengan bahan biasa.

“Alhamdulillah, dengan bantuan PLN pekerjaan kami jadi lebih mudah dan hasilnya meningkat. Kalau sebelumnya hanya bisa membuat 200–300 batako per hari, sekarang bisa mencapai 500–600 batako,” ujarnya.

Pemanfaatan FABA menjadi bahan bangunan merupakan bentuk komitmen PLN dalam mengelola lingkungan secara berkelanjutan sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

FABA sendiri telah terbukti aman digunakan karena tergolong non-B3 (non bahan berbahaya dan beracun), serta memiliki kualitas yang sebanding dengan material bangunan konvensional. Ke depan, PLN berkomitmen terus mendorong inovasi berbasis FABA agar manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak masyarakat dan fasilitas umum.