“Semoga ini bukan yang terakhir. Kami doakan Bank NTT terus menjadi berkat, tidak hanya di altar, tapi juga di ruang-ruang kehidupan masyarakat Manggarai,” tambahnya.
Ketulusan yang Mengalir Melewati Altar
Ada yang khas dari perjalanan “Sentuhan Kasih” ini. Ia tidak gembar-gembor. Ia tumbuh dari niat tulus untuk hadir, menyapa, dan membantu tanpa syarat. Tidak ada proyek besar atau publisitas agresif hanya jejak kasih yang ditinggalkan di banyak altar dan kantor-kantor paroki di pegunungan Manggarai.
Dengan selesainya bantuan di Paroki St. Klaus Kuwu, Bank NTT menutup satu babak. Tapi bukan berarti selesai. Sebab nilai dari kegiatan ini tidak berhenti pada jumlah barang yang diberikan, melainkan pada energi kebaikan yang ditularkan.
Kasih yang Menyentuh, Bank yang Mendengar
Ketika lembaga keuangan mampu mendengar suara akar rumput, menjangkau komunitas kecil, dan hadir tanpa pamrih di situlah letak peran sejatinya dalam pembangunan.
Bank NTT, lewat cabangnya di Ruteng, telah menunjukkan bahwa kasih bisa berjalan seiring dengan profesionalisme. Bahwa laporan keuangan bisa berdampingan dengan pelayanan sosial. Dan bahwa kebaikan tak harus spektakuler, cukup konsisten.





Tinggalkan Balasan