“Data absensi tidak boleh hanya jadi catatan rutin, tapi harus ditindaklanjuti. ASN yang berulang kali terlambat atau tidak hadir wajib mendapat perhatian khusus dari pimpinannya,” tegas Gubernur Melki.

Ia menambahkan, perubahan di NTT, harus dimulai dari hal-hal sederhana. “Dari diri sendiri, unit kerja, hingga meluas ke seluruh birokrasi. Karena ‘virus malas’ lebih cepat menular dibanding semangat rajin,” katanya.

Politisi Partai Golkar ini juga menekankan pentingnya komunikasi publik. Menurutnya, kebijakan pemerintah harus disampaikan secara terbuka dan mudah dipahami oleh masyarakat agar tidak menimbulkan kesalahpahaman atau polemik.

“Sebaik apa pun kebijakan pemerintah, akan sia-sia bila tidak dipahami masyarakat. Karena itu setiap kebijakan perlu disampaikan dengan jelas, terbuka, dan melibatkan publik,” tuturnya.

Gubernur Melki juga menyinggung pentingnya transparansi penggunaan anggaran, terutama dalam kegiatan berskala besar seperti Tour de EnTeTe. Ia menegaskan bahwa, semua penggunaan anggaran akan dipertanggungjawabkan secara terbuka.