Di situlah Bank NTT masuk. Lewat strategi jemput bola, pelayanan berubah menjadi pendampingan. Petugas bank tak hanya datang menawarkan pembiayaan, tapi juga duduk bersama, menjelaskan cara mengatur keuangan, membaca prospek usaha, dan menyusun dokumen yang dibutuhkan.

“Kami temui langsung para pelaku usaha yang selama ini tak terjangkau. Banyak yang awalnya ragu, tapi setelah mendapat edukasi, mereka lebih percaya diri,” ungkap Ade Roni.

Warung, Toko, dan Harapan Baru

Salah satu kisah datang dari Ibu Yuliana, pemilik kios sembako di pinggiran Ba’a. Bertahun-tahun ia bertahan dengan modal seadanya, tak pernah terpikir mengajukan kredit ke bank.

“Saya pikir harus pakai jaminan besar, atau harus punya usaha besar dulu. Tapi ternyata tidak. Petugas dari Bank NTT datang, bantu saya urus semua. Sekarang saya bisa tambah stok barang,” katanya, tersenyum.

Seperti Ibu Yuliana, puluhan pelaku UMKM lainnya mulai berani bermimpi lebih besar. Dari usaha kelontong, peternakan ayam, penenun, pengrajin rotan, hingga penjual ikan keliling semua mendapat sentuhan yang sama: kemudahan akses, pendampingan, dan rasa percaya.