Lebih lanjut Maxs Sanam menjelaskan bahwa, diskusi ini diselenggarakan untuk membahas permasalahan saat ini terkait pengelolaan geothermal khususnya di Pulau Flores.

“Diskusi ini menjadi sangat penting untuk dilaksanakan, karena pengelolaan geothermal bukan hanya sebagai manifestasi, tetapi juga berkaitan dengan masalah-masalah lingkungan, sosial masyarakat yang perlu diluruskan,” ungkapnya.

“Geothermal di NTT bukan hanya sebuah harapan pembangunan energi berkelanjutan, tetapi juga menjadi tantangan dalam pelaksanaannya terkait kekhawatiran masyarakat dan isu lingkungan. Geothermal bukan sekedar sebagai produk ekonomi, lebih lanjut menyangkut keamanan lingkungan dan masyarakat sosial,” jelasnya.

Sementara itu, Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma dalam arahannya menyampaikan diskusi ini menjadi sangat penting untuk dibahas, berkaitan dengan permasalahan geothermal.

“Kegiatan ini menjadi wadah strategis membahas secara komprehensif potensi, tantangan, dan langkah strategis yang dapat ditempuh bersama oleh pemerintah, pihak gereja, pengembang panas bumi, lembaga masyarakat, serta kalangan akademisi dan mahasiswa. Tujuan utamanya adalah membangun sinergi yang kokoh dalam pengembangan energi panas bumi di Pulau Flores, demi mewujudkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan,” ungkap Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma yang hadir secara langsung di Aula Rektorat Lt. 3 Undana.