“Kami ingin membiayai riset-riset yang memiliki manfaat besar dan dibutuhkan masyarakat. Kami menyediakan berbagai skema pendanaan, mulai dari kompetisi BRIN, ekspedisi, riset inovasi untuk pembuktian ilmiah, hingga riset yang mendukung pengurusan izin edar produk,” jelasnya.

Prof. Agus menambahkan, ada skema pendanaan yang dibuka sepanjang tahun dan ada pula yang bersifat periodik. Setelah pengajuan proposal, tim BRIN akan melakukan review dan memberikan masukan untuk perbaikan jika diperlukan.

Sejauh ini, BRIN telah membiayai lebih dari 2.000 proyek penelitian dengan kisaran dana rata-rata Rp200-300 juta per proyek, mulai dari yang terkecil Rp24 juta, hingga yang terbesar mencapai Rp23 miliar per tahun.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua BPH PB PGRI, Dr. Semuel Haning, mengapresiasi kegiatan tersebut. Ia menilai kehadiran Deputi BRIN merupakan angin segar dan motivasi baru bagi UPG 1945 NTT.

“Kehadiran BRIN di kampus ini membuka peluang besar bagi dosen untuk mendapatkan bantuan pendanaan riset. Ini adalah momentum luar biasa,” ujar Dr. Semuel.