Dengan keunggulan ini, pemerintah provinsi kini telah memetakan potensi tersebut di 22 kabupaten/kota, dengan mempertimbangkan empat aspek utama yakni, ketersediaan sumber energi, dampak lingkungan, akses dan tantangan geografis, serta keterjangkauan biaya investasi.
“Kami tidak hanya menumbuhkan energi, tetapi juga mendorong kemandirian energi. Jaringan listrik di Pulau Timor dan Flores sudah cukup baik, namun di daerah kepulauan dan Pulau Sumba, sistemnya masih berdiri sendiri dan belum terkoneksi,” jelas Gubernur.
Geotermal Jadi Isu Sensitif, Tapi Perlu Pendekatan Ilmiah dan Dialog
Gubernur Melki mengakui bahwa pengembangan energi panas bumi (geotermal) masih menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. Namun ia menilai, resistensi tersebut sering kali bersumber dari kurangnya informasi dan minimnya dialog langsung di lapangan.
“Saya baru-baru ini turun langsung ke dua titik paling panas di Flores, yakni Mataloko dan Poco Leok. Ternyata kelompok yang sebelumnya menolak, justru bersedia berdialog saat saya datang. Ini menunjukkan bahwa dialog terbuka sangat penting,” ungkap Melki.



Tinggalkan Balasan