“Saya baru-baru ini turun langsung ke dua titik paling panas di Flores, yakni Mataloko dan Poco Leok. Ternyata kelompok yang sebelumnya menolak, justru bersedia berdialog saat saya datang. Ini menunjukkan bahwa dialog terbuka sangat penting,” ungkap Melki.
Ia juga mengkritisi pihak-pihak yang menyebarkan narasi penolakan melalui media sosial tanpa pernah turun ke lokasi. Menurutnya, hal ini justru merusak harmoni masyarakat lokal.
“Yang terluka bukan cuma proyek energi, tapi juga kebersamaan, persaudaraan, bahkan keluarga. Karena itu mari kita rajut kembali, duduk bersama, bicara, baru ambil keputusan,” tegasnya.
Gubernur juga menyampaikan kekhawatirannya soal keberadaan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) dan batu bara yang masih mendominasi beberapa wilayah. Ia menilai, hal ini dapat menurunkan daya tarik wisata NTT di mata wisatawan global yang kini lebih sadar lingkungan.
“PLTD itu sisa masa lalu. Bahkan ada yang sudah 50 tahun belum diganti. Kalau kita masih andalkan energi fosil, jangan heran kalau wisatawan enggan datang,” katanya.
Karena itu, Melki menegaskan bahwa pemerintah tidak anti-kritik, tapi mengajak semua pihak untuk berpikir rasional dan berbasis ilmu pengetahuan. Ia juga menekankan bahwa dalam setiap transformasi pasti ada pihak yang dirugikan, seperti pengusaha batu bara atau minyak, tetapi masa depan NTT harus tetap diperjuangkan.
“Transformasi energi pasti menimbulkan gesekan. Tapi kita tidak bisa terus dibodohi oleh mitos dan hoaks. Mari dorong diskusi, dorong dialog, karena masa depan NTT tidak bisa ditentukan oleh kepentingan sesaat,” tutup Gubernur.







Tinggalkan Balasan