Di ujung pertemuan, masih menurut Gubernur Melki, Presiden Prabowo berpesan bahwa seorang Kepala Daerah tidak boleh takut untuk mendistribusikan keadilan apa pun risikonya. Karena memang risikonya sudah pasti tidak mudah.
“Sesuai dengan visi dan misi kami, saya berpikir bagaimana caranya kita bisa membuat masyarakat NTT ini bisa pegang uang banyak, kemudian bisa gunakan untuk pendidikan, kesehatan, dan berbagai kebutuhan lain, pemerintah juga bisa dapat PAD,” ujar Gubernur Melki.
Gubernur NTT mencontohkan, kopi, jika dijual dalam bentuk biji yang belum diolah, harganya Rp150 ribu per kilogram. Namun, jika dilakukan hilirisasi dalam bentuk kemasan, harga per kilogramnya bisa mencapai Rp800 ribu per kilogram.
Dengan memperkuat hilirisasi di UMKM, Gubernur Melki meyakini bahwa produk-produk dari NTT bisa menembus pasar internasional.
“Hari ini, meskipun baru belasan UMKM, dampaknya akan sangat besar buat kami. Karena ini akan menimbulkan kepercayaan diri bagi para pelaku UMKM bahwa kalau Badan POM betul-betul mendampingi dan membantu kita di luar yang sudah ada, itu akan sangat besar artinya bagi kami di sini,” jelasnya.



Tinggalkan Balasan