Tak hanya soal pendidikan, Gubernur Melki juga menjawab catatan dari fraksi-fraksi tentang inisiatif seperti Gerakan Beli NTT yang dirintis bersama para tokoh gereja untuk mengembangkan produk-produk lokal berbasis komunitas.

Ia berharap, bukan hanya Gereja Masehi Injili Timor (GMIT), tapi gereja Katolik, masjid, hingga sekolah pun bisa punya produk unggulan masing-masing.

“Kalau perlu, kita bikin produk lokal di tiap gereja, tiap sekolah, setiap komunitas. Yang penting lolos uji Dinas Kesehatan. Kita harus kurangi ketergantungan pada produk luar. Bayangkan, kita habiskan sekitar Rp 5 triliun per tahun untuk konsumsi air mineral dari luar. Padahal, kalau dikelola sendiri, itu bisa mutar di ekonomi lokal,” ujarnya.

Gubernur juga menyentil peran unit-unit pelaksana teknis (UPT) Pemerintah Daerah yang dinilainya masih belum optimal. Ia mengajak agar UPT bisa dimanfaatkan sebagai pusat kegiatan ekonomi rakyat, yang juga bisa membuka ruang masuk bagi konstituen anggota DPRD.

“Model baru ini bisa kita coba ke depan. Saya yakin, dengan sinergi antara Pemerintah dan DPRD, kita bisa buat skema bagi hasil yang menguntungkan rakyat,” tegasnya.