“Kami ingin setiap desa, paroki, bahkan stasi dan KUB bisa memiliki satu produk unggulan. Produk lokal harus diolah terlebih dahulu sebelum dijual agar memiliki nilai tambah. Seperti kopi, jangan dijual mentah, tapi olah jadi bubuk kopi berkualitas,” tegasnya.

Gubernur juga menyinggung kolaborasi yang sudah dilakukan dengan berbagai lembaga keagamaan, termasuk peluncuran GG Mart oleh Gereja Masehi Injili Timor serta keterlibatan dalam Festival Ekonomi Syariah Kawasan Timur Indonesia.

“Saya yakin kalau semua lembaga keagamaan mendorong pengembangan UMKM lokal dan bekerja sama dengan pemerintah, maka produk-produk kita bisa menembus pasar nasional dan internasional,” ujarnya.

Ia menutup sambutannya dengan ajakan kepada Gereja Katolik Weetabula untuk terus berkolaborasi demi mewujudkan Sumba Barat Daya yang maju dan sejahtera, serta NTT yang sehat, cerdas, dan berkelanjutan.

Sementara itu, Pastor Paroki St. Yosep Waimarama, Rm. Vinsensius Cristianto Yanto Tena, Pr., turut menyampaikan terima kasih atas kehadiran Gubernur dan semua pihak yang telah mendukung pembangunan gereja.

“Di usia ke-18 Stasi ini dengan jumlah umat 1.368 jiwa, kami bangga atas partisipasi semua pihak, termasuk saudara kami dari GKS dan umat Muslim, dalam membangun gereja ini. Gereja ini akan selalu terbuka untuk kasih, kebaikan, dan kedamaian bagi seluruh umat,” ucapnya.

Uskup Weetabula, Mgr. Edmundus Woga, CSsR, juga menekankan pentingnya merawat dan menjaga kebersihan gereja sebagai bentuk nyata iman umat.

“Pembangunan gereja ini adalah hasil gotong royong banyak pihak. Maka menjadi tanggung jawab kita bersama untuk merawatnya dengan baik sebagai rumah ibadah dan tempat memuliakan Tuhan,” tegas Uskup Edmundus.

Acara peresmian ini menjadi momen penuh syukur dan harapan akan semangat persaudaraan lintas iman serta kolaborasi berkelanjutan demi kemajuan NTT. (rdt/ab)