Sementara itu, Kepala Bengkel Prodi Teknik Mesin Undana, Dody Adoe, menjelaskan bahwa sampah plastik yang diolah sebagai bahan baku furniture idealnya berwarna putih dominan. Bahkan, Undana siap membeli sampah plastik dari masyarakat dengan harga lebih tinggi dibandingkan bank sampah, sebagai bentuk dukungan terhadap ekonomi sirkular dan partisipasi publik.

“Dari satu kilogram sampah plastik, kami dapat menghasilkan 700 mililiter hingga 1,1 liter BBM. BBM ini bisa digunakan untuk kendaraan bermotor, genset, dan kompor minyak tanah, karena fungsinya sama,” jelas Dody.

Dody menegaskan bahwa produk BBM hasil inovasi ini tidak diperjualbelikan bebas karena harus mendapatkan izin resmi dari Badan Migas.

Namun, masyarakat yang berminat belajar dan mengembangkan teknologi ini dipersilakan untuk mengikuti pelatihan dan pendampingan yang akan diberikan oleh pihak Undana, terutama bagi masyarakat di daerah terpencil.

“Sampah adalah masalah kita bersama, sehingga solusinya juga harus kita tangani bersama,” pungkasnya.