“Kami juga mendorong adanya kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan lembaga vertikal seperti Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), serta Bank NTT. Kami meminta agar Bank NTT juga menyesuaikan diri dengan arah kebijakan pembangunan daerah. Kalau PDRB kita 30% dari sektor pertanian, kredit sektor pertanian juga harus dominan. Bank NTT harus menyesuaikan, bukan berjalan sendiri,” jelasnya.
Eks Wakil Ketua Komisi IX DPR RI ini juga meminta seluruh pihak, untuk menyusun proyeksi pendapatan per sektor secara detil, menetapkan target spesifik tiap OPD, dan menyelaraskannya dengan potensi lapangan.
“Kalau tiap sektor tahu tugas dan targetnya, serta bekerja dalam semangat kolaborasi, saya yakin Rp2,8 triliun itu bukan mustahil. Kita harus berani target tinggi dan kerja luar biasa,” ungkapnya.
Wakil Ketua DPP Partai Golkar itu menegaskan, Provinsi NTT sebenarnya punya potensi yang sangat besar kalau dimaksimalkan dengan baik.
“Kadang kita terlalu sering merasa seperti ayam, padahal kita elang. Saatnya kita terbang tinggi dan percaya diri dengan potensi besar yang kita miliki. Kita harus keluar dari pola pikir biasa – biasa saja dan mulai melompat jauh untuk mengejar pembangunan. Ayo Bangun NTT,” tandas Gubernur Melki. (*)



Tinggalkan Balasan