“Dengan OVOP, desa bukan hanya tempat tinggal, tapi pusat produksi, inovasi, dan kebangkitan ekonomi rakyat. OVOP menjadi landasan Gerakan Beli Produk NTT sebagai upaya besar untuk pergerakan ekonomi desa di NTT,” tegas Gubernur Melki.
Gubernur mengajak semua pihak mulai dari pemerintah kabupaten/kota, perangkat desa, BUMDes, UMKM, PKK, kelompok tani, pemuda, hingga mitra swasta dan Koperasi Desa Merah Putih untuk bergotong royong menghidupkan semangat OVOP.
Selain itu, Gubernur juga mengingatkan para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah untuk menjaga konsistensi kualitas produk dan kontinuitas produksi, karena produk yang dihasilkan mencerminkan komitmen dan integritas mereka.
“Kita memulai langkah besar kebangkitan ekonomi NTT dari desa. Mari bersatu menjaga kejujuran, membangun kepercayaan, dan mempererat hubungan antar pelaku usaha. Kepercayaan adalah aset terbesar yang harus kita jaga,” pungkasnya.
“Satu Desa, Satu Produk Unggulan Dari NTT untuk Indonesia! Ayo Bangun Desa, Ayo Bangun NTT,” pungkasnya.
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Viktor Manek mengatakan, launching OVOP, Gerakan Beli Produk NTT, dan Penggunaan Kartu Kredit Pemerintah Daerah menampilkan 44 produk unggulan dari desa atau kelurahan lokus OVOP.
“Acara ini dihadiri oleh Walikota dan Bupati Kupang, Ibu Bupati Sumba Barat Daya, serta dihadiri oleh para Kepala Desa, Lurah lokus usaha dari 22 Kabupaten Kota. Selain itu, acara ini juga disambut dengan antusiasme oleh 190 UMKM dan PKL yang dengan semangat menyediakan 1000 porsi aneka makanan untuk dinikmati pengunjung secara gratis,” terangnya.
Ia menjelaskan, ke-44 produk OVOP yang akan diluncurkan telah melalui serangkaian proses pemetaan potensi dan keberlanjutan bahan baku, penilaian desa satelit, identifikasi pembeli, jalur distribusi, serta analisis aspek legalitas dan pendampingannya.
Tiga produk telah mendapatkan pendampingan yang kini telah berakhir, sementara empat UMKM dari dua kabupaten masih mendapat pendampingan dari pemerintah kabupaten, namun telah diserahkan kepada pemerintah provinsi untuk pendampingan lebih lanjut. Sedangkan 37 produk lainnya masih belum mendapat pendampingan.







Tinggalkan Balasan