Namun, peneliti yang telah menekuni geothermal selama 27 tahun ini tak memungkiri ada beberapa kesalahpahaman dalam memahami risiko geothermal, terutama isu terkait pencemaran air tanah, paparan gas beracun, emisi karbon, gempa bumi, hingga penurunan muka tanah.
Kesalahpahaman sehubungan dengan isu di atas, kata Ali Ashat, terjadi lantaran anggapan bahwa setiap geothermal sama. Padahal terdapat beberapa jenis geothermal dengan sistem kerja yang berbeda. Oleh sebab itu, risiko geothermal di suatu negara belum tentu sama dengan negara lain.
“Geothermal ada beberapa jenis; geopressured, hot sedimentary equifer, hydrothermal, petrothermal, engineered geothermal. Di Indonesia, sistemnya hydrothermal. Jadi sudah ada panasnya dan sudah ada airnya tinggal mengambil,” jelas Ali Ashat.
Di samping itu, pengembangan geothermal dilakukan melalui tahapan yang ketat dan terukur menggunakan teknologi yang telah teruji. Perlatan bor, misalnya, dalam proses pengeboran, menggunakan teknologi yang efisien, andal, dan terjamin melalui sistem otomatis yang cerdas sehingga mampu memprediksi dan mencegah kegagalan saat eksplorasi. Jaminan keselamatan ini menjadi perhatian utama dalam tahap pengeboran.



Tinggalkan Balasan