“Setidaknya, pekerjaan-pekerjaan baru mendatang akan didominasi oleh kemampuan kognitif tingkat tinggi,” bebernya.

Lebih jauh ia menjelaskan, jika dunia pendidikan, terutama pada guru saat ini berhadapan dengan tantangan baru dengan kehadiran Al yang bisa mengatasi segala kebutuhannya dan sekaligus dapat menghapus jarak antara kemampuan anak dengan kemampuan guru dalam hal kognitif.

“Jika hanya pengetahuan yang dikejar dan menjadi stok yang dimiliki oleh guru, maka
Anda akan kalah dengan Al, Google, dll. Maka kebutuhan baru dalam dunia guru sesungguhnya bukan lagi mentrasfer pengetahuan tetapi mentransformasikan pengetahuan itu menjadi nilai-nilai yang berguna bagi kehidupan Anak. Kecakapan-kecakapan emosional yang membantu pengembangan karakter siswa masih merupakan pekerjaan yang belum tergantikan oleh Al,” bebernya.

Kemudian di dunia kesehatan juga jelas Marsel, selau dihadapkan dengan tantangan baru melalui kehadiran kecerdasan buatan Al.

“Sudah ada Al yang menggantikan tugas dokter secara akurat dalam hal mendiagnosis penyakit dan memberikan resep yang tepat untuk penyakit tertentu. Namun untuk sementara peran perawat dan bidan belum tergantikan oleh AI, karena keahlian perawat dan bidan tidak hanya soal pengetahuan atau kecakapan intelektual tetapi juga kemampuan motorik dan emosional dalam merawat pasien,” jelasnya.

Kendati hingga saat ini tambah dia, belum ada robot yang mampu menggantikan perban pada luka, menenangkan pasien
yang beringas, atau membantu persalinan ibu.

Sementara dalam bidang pertanian dan peternakan, rekayasa genetika telah melahirkan banyak sekali varietas-varietas tanaman baru.

“Beberapa pekerjaan fisik petani dan peternak telah tergantikan oleh mesin-mesin dan robot. Maka petani-petani milenial tidak lagi mengandalkan otot tetapi otak dalam bekerja mulai dari produksi sampai pemasaran. Mereka lebih berperan sebagai operator dan manajer,” sebutnya.

Karena itu Warek I ini bilang, di tengah tantangan dan ketidakpastian ini, Unika Santu Paulus Ruteng telah berusaha untuk membekali para mahasiswanya dengan beberapa karakter utama yang bersumber dari semangat Santu Paulus, yakni Resiliens, Integritas, Loyalitas, dan Solider di bawah visi “menjadi komunitas akademik yang transformatif, kolaboratif, dan berkarakter”.