Waingapu, KN – Kabihu Payeti di Sumba Timur adalah salah satu Kabihu yang sangat sentral dalam sejarah Gerejaa Kristen Sumba (GKS). Ditengah perkampungan Kabihu Payeti, Injil ditabur pertama kali bagi kalangan suku Sumba.

Perjumpaan Melki Laka Lena dengan keluarga Payeti serta semua rumpun keluarga terkait lainnya, tidak sekadar bermakna politik. “Perjumpaan itu lebih bermakna sejarah kemanusiaan yang saling terikat secara geneologis maupun teritorial,” sebut mantan Ketua Sinode Gereja Kristen Sumba (GKS), Pdt. Neftali Djoru, yang dihubungi Sabtu (2/11/2024).

Menurut Pdt. Neftali Djoru, sejarah mencatat, Kabihu Payeti menyerahkan banyak tanah mereka menjadi pusat ibadah, pendidikan dan pelayanan kesehatan. Wilayah Payeti tidak terlalu luas, namun Payeti yang kecil itu dikenal oleh Gereja sedunia sebagai pusat getar pelayanan yang telah menyejarah sampai kini.

Pdt. Neftali Djoru mengatakan, ketika Melki Laka Lena maju sebagai calon wakil gubernur NTT mendampingi Ibrahim Agustinus Medah pada Pilgub tahun 2013, ia sudah mendengar silsilah beliau yang memiliki pertalian darah langsung dengan orang Sumba. “Sekian lama kisah itu seakan terpendam. Namun momentum ini justru mewujudkan kisah persaudaraan itu dalam sebuah perjumpaan dengan keluarga dari kabihu (klan) Payeti sebagai asal leluhur Pak Melki Laka Lena,” katanya.