So’E, KN – Air bersih dan sanitasi layak merupakan kebutuhan dasar manusia yang penting untuk mendukung perilaku hidup bersih dan sehat, serta mencegah penularan penyakit. Setiap masyarakat berhak mendapatkan akses air bersih dan sanitasi layak, sejalan dengan tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin nomor 6: “Air Bersih dan Sanitasi Layak”, demi mencapai Indonesia Emas 2045. 

Namun, hingga saat ini, masih banyak daerah di Indonesia  yang sulit menjangkau akses air bersih dan kebutuhan sanitasi layak, salah satunya masyarakat di Desa Oni, Kecamatan Kualin, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur.

Pulau Timor secara umum memiliki kondisi cuaca panas dengan curah hujan relatif sedikit, sehingga di beberapa lokasi, terutama di bagian selatan Pulau Timor, mengalami kesulitan air. Di samping iklim, juga ditunjang dengan kondisi geologi yang didominasi oleh batuan kars atau gamping. Batuan gamping memiliki porositas tinggi, sehingga ketika air hujan jatuh ke permukaan tanah, air cenderung meresap ke dalam tanah dan mengalir melalui rekahan batuan tersebut dan air mengalir di dalam gua-gua bawah tanah dan membuat jaringan pengaliran air/sungai di bawah tanah yang menyebabkan air sungai di permukaan relatif kering. Beberapa mata air muncul ke permukaan akibat aliran sungai bawah tanah tersebut terpotong oleh struktur geologi yang ada.

Selama ini, sumber air untuk Desa Oni berasal dari mata air Batan yang lokasinya cukup jauh, berjarak sekitar 4 km di bagian utara dan sebagian kecil dari mata air Tisi. Mata air tersebut digunakan oleh beberapa desa sekitarnya sehingga kerap terjadi kekurangan pasokan air bersih karena digunakan secara bersama-sama, terutama kalau debit mata air Tisi berkurang akibat musim kemarau. Selama ini, untuk memenuhi kebutuhan air bersih, masyarakat mengambil air langsung dari mata air, baik secara langsung maupun menggunakan sistem perpipaan dan tandon air yang sudah ada. Namun, karena keterbatasan debit air, distribusi jaringan perpipaan, dan jumlah tandon yang terbatas, masyarakat masih mengeluhkan sulitnya mendapatkan air bersih. Berdasarkan data di Desa Oni, 10,68% kepala keluarga (KK) belum terlayani jaringan air bersih dan 7,1% KK belum memiliki sanitasi.