Kendati demikian, Ferdy Hasiman pun dengan lantang menyatakan untuk mendukung perluasan PLTP yang ada di Poco Leok itu.

“Karena itu saya berani untuk mengatakan bahwa saya terima geothermal karena ada unsur transisi energi di sini, kita sangat membutuhkan sekali. Kalau geothermal ini berkembang di flores saya sangat yakin akan sangat banyak investasi yang masuk disana baik itu pariwisata maupun aset kelautan yang luar biasa,” tandasnya.

“Tetapi kalau kekayaan itu tidak dimanfaatkan dengan baik itu susah dan bagaimana investasi masuk tentu mereka akan tanya bagaimana listriknya, airnya, bagaimana infrastrukturnya. Kalau tiga itu tidak ada mereka akan berhenti dan kita akan terus seperti ini,” sambungnya.

Di sisi lain ia menjelaskan, tahun 80 an sampai tahun 2000 indonesia ini kaya minyak, negara dengan produksi minyak terbesar (Asia). Produksinya kata dia, 1,6 juta barol per hari dan tetap eksplorasi yang dilakukan terus menerus.

“Seiring dengan eksplorasi pemboran dan segala macamnya, produksi minyak kita terus turun. Di awal tahun 2000 an, kebetulan saya masih ingat sudah hampir 900 ribu barel per hari. Dan sekarang di tahun 2024 tinggal 630 ribu barel per hari dan kita butuh minyak impor sekitar 60% untuk bisa memenuhi konsumsi dalam negeri (bensin, solar termasuk listrik),” paparnya.

Jadi lanjut dia, sejak pertama presiden Jokowi menjabat apa yang ideal-idialkan untuk kemandirian energi tidak ada karena kita bergantung penuh pada minyak.

“Hampir 60% kita mengimpor minyak dari luar dan kita mengalami defisit neraca perdagangan APBD kita jebol (turun terus), karena kita harus membeli minyak dari luar. Belum lagi isu mafia migas. Jadi negara kita memang ini sulit kalau kita mengandalkan BBM. Jadi kalau kita terus mengharapkan minyak atau BBM jadi kita tidak ada listrik nannti (hari ini listrik nyala, minggu depan belum tentu), tentu kita ngamuk karena kita tidak punya sumber,” pungkasnya.

Karena itu ia berharap kepada pihak PLN untuk terus bertukar pikiran dengan berbagai stakeholder dan masyarakat bawah dan berbagai kalangan agar menjelaskannya secara masuk akal. **(Yhono Hande)